Hukum Ohm

Hukum Ohm – Bunyi hukum Ohm adalah arus kuat dalam rangkaian yang berbanding lurus dengan tegangan di ujung rangkaian dan berbanding terbalik dengan resistansi rangkaian.

Hukum Ohm diambil dari nama fisikawan Jerman, Georg Simon Ohm (1787-1854). Hukum Ohm digunakan untuk menghitung tegangan, hambatan atau arus dalam suatu rangkaian listrik.

Jadi untuk lebih memahami dan memahami apa itu Hukum Ohm, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Daftar Isi

  • 1 Memahami Hukum Ohm
    • 1.1 Suara Hukum Ohm
    • 1.2 Penerapan Hukum Ohm
    • 1.3 Formula Hukum Ohm
    • 1.4 Contoh Masalah Hukum Ohm
      • 1.4.1 1. Menghitung Resistensi atau Resistensi (R)
      • 1.4.2 2. Menghitung Tegangan (V)
      • 1.4.3 3. Menghitung Arus Listrik

Memahami Hukum Ohm

Hukum Ohm diperkenalkan oleh seorang ilmuwan asal Jerman bernama George Simon Ohm pada tahun 1825. Ohm juga menerbitkan hasil penelitiannya dalam buku berjudul “The Galvanic Circuit Investigated Mathematically” pada tahun 1827.

Hukum Ohm juga merupakan ilmu dasar dalam elektronika yang menyatakan bahwa ada hubungan antara arus listrik, hambatan dan tegangan dalam suatu rangkaian listrik.

Hukum Ohm adalah pernyataan bahwa besarnya arus listrik yang dapat mengalir melalui suatu penghantar akan selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang dapat diterapkan padanya.

Suatu benda konduktif dapat dikatakan mematuhi hukum Ohm jika nilai resistansinya tidak bergantung pada besar dan polaritas beda potensial yang akan diterapkan padanya.

Meskipun hal ini tidak selalu berlaku untuk semua jenis penyampaian, istilah “hukum” masih dapat digunakan karena alasan historis.

Hukum Ohm digunakan secara luas dalam rangkaian elektronik dan merupakan hukum dasar dalam rangkaian listrik.

Baca juga: Gelombang: Pengertian, Sifat, dan Jenis Gelombang untuk Contoh

Dengan menggunakan hukum Ohm, kita tidak hanya dapat menghitung, tetapi juga dapat mereduksi arus listrik, menurunkan tegangan pada suatu rangkaian dan juga dapat memperoleh nilai resistansi atau resistansi yang diperlukan.

Suara Hukum Ohm

“Jumlah arus listrik (I) yang mengalir melalui konduktor atau konduktor akan berbanding lurus dengan beda potensial atau tegangan (V) yang dapat diterapkan padanya dan berbanding terbalik dengan resistansi (R)”.

Penerapan Hukum Ohm

Berikut penerapan hukum ohm:

  • Aliran listrik digunakan untuk penggunaan alat-alat listrik misalnya untuk menyalakan lampu, lemari es, TV, setrika & alat listrik lainnya.
  • Alat listrik yang diberi tegangan yang lebih kuat dari tegangan yang seharusnya menyebabkan alat listrik tidak bekerja dengan normal, contoh: Lampu yang diberi tegangan lebih rendah menyebabkan cahaya menjadi redup, setrika yang diberi tegangan lebih rendah tegangan menyebabkan proses pemanasan memperlambat elemen.
  • Arus listrik yang diberi tegangan lebih besar dari tegangan yang seharusnya menyebabkan alat listrik cepat rusak.
  • Hukum Ohm digunakan untuk membuat rangkaian listrik seri, paralel, dan gabungan.

Formula Hukum Ohm

Rumus hukum ohm adalah sebagai berikut:

V = I x R

I = V / R

R = V / I

Informasi:

  • V: beda potensial atau voltase (volt)
  • I: arus kuat (ampere)
  • R: ham batan I istri k (ohm)

Contoh Masalah Hukum Ohm

Contoh hukum Ohm adalah sebagai berikut:

1. Menghitung Resistensi atau Resistensi (R)

Jika nilai suatu Tegangan pada Voltmeter (V) adalah 50V dan nilai Arus Listrik (I) pada Ammeter adalah 2A. Berapakah nilai Resistensi pada Potensiometer?

Masukkan nilai Tegangan 50V dan Arus Listrik 2A kedalam Rumus Ohm seperti dibawah ini:

R = V / I

R = 50/2

R = 25 Ohm

Maka nilai resistansinya adalah 25 Ohm

Baca juga: √ Pengertian Paramagnetik Diamagnetik dan Ferromagnetik Lengkap

2. Menghitung Tegangan (V)

Atur nilai resistansi atau tahanan (R) dari Potensiometer menjadi 2500 Ohm, kemudian sesuaikan Generator DC atau Power Supply untuk menghasilkan Arus Listrik (I) sebesar 100 mA. Pertanyaannya adalah berapakah tegangan (V) dari case ini?

Diskusi:

Langkah pertama yang dilakukan adalah mengubah satuan Arus Listrik (I) yang masih satu miliAmpere terlebih dahulu menjadi satuan Ampere yaitu:

100mA = 0,1 Ampere.

Nilai Resistensi Potensiometer = 2500 Ohm

Arus Listrik Terukur = 0,1 Ampere

Untuk mengetahui nilai tegangan (V), rumus yang digunakan adalah:

V = I x R

V = 0,1 x 2500

V = 250 Volt

3. Menghitung Arus Listrik

Setting Generator DC atau Power Supply untuk menghasilkan Output Tegangan 30V, kemudian atur Nilai Potensiometer menjadi 70 Ohm. Berapakah nilai Arus Listrik?

Masukkan nilai Tegangan 30V dan Nilai Resistensi Potensiometer, yaitu 70 Ohm, ke dalam Rumus Hukum Ohm

I = V / R

I = 30/70

I = 0,4 Ampere

hasilnya 0,4 Ampere

Demikian pembahasan mengenai Hukum Ohm. Semoga review ini dapat menambah wawasan dan ilmu anda … terima kasih banyak atas kunjungannya.

.